Trekking ke Baduy Dalam Januari 2007

Suku Baduy, atau di sebut juga Urang Baduy, terletak di tengah hutan daerah pegunungan Kendeng , sekitar 300-500m di atas permukaan laut, termasuk ke dalam Desa Kanekes, Kec Leuwidamar,Kab Lebak, Propinsi Banten, 35 km sebelah selatan Rangkas Bitung atau 120 km dari Jakarta.

 

Urang Baduy terbagi menjadi dua, Baduy Luar ( Panamping) dan Baduy Dalam (Tangtu, Baduy Kajeroan). Baduy Luar terdiri dari sekitar 50 kampung yang tersebar di sebelah barat, timur dan utara Baduy Dalam. Baduy Dalam terletak paling selatan dari Desa Kanekes, terdiri dari 3 kampung yang masing masing di kepalai oleh seorang puun di bantu oleh Jaro sebagai pelaksana harian kepuunan sedangkan kampung di Baduy Luar di pimpin oleh seorang Jaro yang bertindak sebagai kepala desa.

Paling utara Baduy Dalam adalah kampung Cibeo yang merupakan penjaga keamanan dan pintu gerbang Baduy Dalam. Sebelah selatan Cibeo adalah Cikertawana yang merupakan pelaksana harian pemerintahan. Dan paling selatan adalah Kampung Cikeusik yang merupakan kampung paling suci. Lebih selatan lagi tidak ada pemukiman. Di situlah letak hutan terlarang, hutan yang dianggap paling suci oleh Urang Baduy, di mana tidak sembarang orang boleh masuk. Di hutan tersebut terletak Arca Domas, yang hanya boleh dikunjungi oleh Sang Puun dan beberapa orang terpilih.

Rekreasi Trekking ke Baduy Dalam merupakan salah satu program unggulan Wanatama tahun 2006, yang rencananya dilaksanakan pada akhir Desember 2006 sebagai program penutupan. Berdasarkan keputusan rapat anggota, program ini akhirnya dilaksanakan pada hari/tanggal Sabtu/Minggu 13-14 Januari 2007 dan di koordinatori oleh Mas Benno

Di awali dengan survey yang telah dilaksanakan pada tanggal 9 Desember 2006 oleh Mas Benno, mas Tomo dan Pak Uye. Kemudian penyebaran pamflet oleh Mas Bongky di papan pengumuman subsidiaries TMT. Setelah beberapa rapat dan perhitungan di putuskan iuran anggota sebesar Rp. 110.000,- dan ditambah subsidi dari Tusra Jaya serta Wanatama.

 

Biaya tersebut termasuk transport menggunakan Bus Hiba AC 25 seat dan sebuah Panther, tiket masuk Rp.3500 per orang, konsumsi Rp 45.000 perorang untuk 1 kali snack dan 4 kali makan (makan siang, malam, pagi dan siang) di Baduy dan di peroleh dari katering Ciboleger, Rp. 400.000,00 untuk dua pemandu, Rp 300.000,00 untuk bingkisan kepada 3 tuan rumah yang akan kami tinggali terdiri dari uang, gula pasir, teh, kopi dan ikan asin, dan beberapa keperluan lainnya. Berdasar hasil rapat masing masing peserta di wajibkan membawa pakaian ganti,obat2an pribadi,snack perjalanan pribadi,sepatu/sandal gunung,jaket/jas hujan,kaos kaki,lilin (walaupun sebenarnya kami boleh mempergunakan senter) ,autan,alat Ibadah, sarung/selimut

Tanggal 13 Januari 2007 pukul 6.15, berangkatlah peserta trekking setelah sebelumnya di awali dengan briefing, perkenalan dan doa pertama serta foto foto. Peserta yang berangkat sebanyak 30 orang terdiri dari 2 TSD, 10 Mining HO, 1 MST, 10 PTTU Jakarta dan 4 TC Cileungsi serta Mas Boni dan Mas Nur Jakarta dari halaman parkir Trakindo HO. Rute yang dilalui adalah Jakarta – Serpong – Balaraja – Rangkas Bitung – Ciboleger di bantu oleh Mas Tomo dan Mas Benno sebagai penunjuk jalan, Mas Ady sebagai driver Panther serta Mas Bongky dan Mas Eko Mbanguntapan sebagai HT Man. Ada satu yang spesial pada perjalanan kali ini karena Mas Ady membawa Mbak Tania sang istri dan putri kecilnya Amanda.


Sekitar pukul 11.05 siang, dan setelah sempat melewati jalanan yang cukup tidak ramah di akhir perjalanan, beberapa kali SPBU dan beberapa kali putaran akibat salah jalan, sampailah kami di desa Ciboleger, yang merupakan desa pintu gerbang menuju Baduy dan tempat bertemunya kami dengan 2 pemandu. Kami. Kami beristirahat di sebuah warung, ganti seragam trekking, packing, makan siang, dan sholat.

Dalam perjalanan ini di rencanakan Mas Ari sebagai Frontier, Mas Tomo di tengah sebagai P3K man dan Mas Ady sebagai sweeper. Sebelum keberangkatan, pemandu memberikan pengarahan tentang kondisi jalan dan beberapa aturan yang harus di patuhi di daerah Baduy dalam termasuk larangan memotret, menggunakan sabun/odol ketika mandi dan menggunakan peralatan elektronik lainnya. Pemandu akan memberi tahu kan ketika batas daerah larangan sudah tiba. Pemandu terdiri dari 2 pemandu dari luar Baduy dan beberapa pemandu dari Urang Baduy Dalam. Rencana awal rute perjalanan adalah berangkat melalui Gajeboh dan pulang kembali ke Ciboleger melalui rute yang berbeda, tetapi kemudian rute di balik untuk mendapatkan medan lebih ringan.


Setelah bersiap siap, jam 13.00 WIB kami memulai perjalanan. Tujuan yang pertama adalah menuju rumah kepala desa Ciboleger, sekitar 1 km dari gerbang, untuk meminta ijin. Setelah berhenti beberapa menit, kami mulai melanjutkan perjalanan menuju kampung tujuan, Kampung Cibeo denga melalui Desa Kadu Keter.. Tidak membutuhkan waktu lama untuk segera bertemu dengan jalan setapak di hutan. Suasana alam terbuka mulai terasa. Hamparan pepohonan hijau, bukit-bukit, jalanan yang terus terusan naik dan turun di tengah teriknya sinar matahari.

Kami sempat melewati Danau DangDang Ageng tempat orang Baduy mencari ikan. Sesekali terdengar suara angin yang kencang dan suara seperti musik dari kejauhan yang menurut Sapri (seorang pemandu Baduy) adalah suara rumpun bambu yang sudah di lubangi seperti seruling, sehingga mengeluarkan alunan nada setiap tertiup angin kencang.

Menjelang desa Kedu Keter,Baduy Luar, dengan pertimbangan Amanda yang kecapekan, Mas Ady dan Tania memutuskan kembali ke Desa Ciboleger. Tetapi kemudian mereka akan kembali ke Desa Kedu Keter ,Baduy Luar dan menginap di sana, untuk keesokan harinya kembali ke Desa Ciboleger. Posisi sweeper digantikan oleh Mas Wid.

Sekitar pukul 14:00 rombongan pertama sampai di desa Kedu Keter ,Baduy Luar. Kami menunggu di desa tersebut karena di Baduy Dalam sedang ada acara. Sekitar pukul 15:00 secara bersama sama kami melanjutkan perjalanan.

Gambar . 6 Rumah panggung rumah Baduy Luar

Setelah mendapat tanda dari pemandu, mulaikah kami melanjutkan perjalanan. Di temani terik sinar matahari dan peluh yang menetes, pelan pelan kami menyusuri tanjakan,turunan,bonus,tanjakan, turunan, bonus, tanjakan, turunan, tanjakan, tanjakan, tanjakan, tanjakan lagi….kami sempat beristirahat lama di sebuah huma di tengah tengah tanjakan yang dinamakan tanjakan 1 kilo.

Setelah beberapa waktu berjalan, kami mulai memasuki daerah lumbung padi (leiut), yang menandakan kami akan segera sampai di perkampungan. Semua padi milik penduduk di simpan di area lumbung padi, cukup jauh dari kampung untuk menghindarkan bahaya kebakaran bagi rumah penduduk mengingat dareh lumbung amat rentan terhadap kebakaran. Sekitar jam 17:00 WIB rombongan pertama sampai sebuah jembatan gantung yang merupakan pintu masuk ke kampung tujuan, Cibeo, di susul dengan tim-tim berikutnya. Tim sweeper tiba sekitar jam 18:30 WIB.

Gambar . 7 Leuit, lumbung padi di Baduy

Kampung Cibeo terlihat bersih. Di kelilingi dengan sungai yang merupakan sumber air. Di situlah tempat penduduk membersihkan badan, mencuci baju dan peralatan rumah tangga dan buang air. Sungai tersebut amat sejuk dan jernih, mengingat adanya larangan tidak boleh menggunakan sabun dan odol di sungai.

Rumah rumah Baduy dalam cukup sederhana,berbentuk rumah panggung 30cm-50 cm di atas tanah, di buat dari kayu sebagai tiang, anyaman bambu sebagai dinding dengan sebuah lubang seukuran 8cm x 10 cm (mungkin sebagai ventilasi) dan atap dari rumbia dan daun kelapa. Mereka tidak menggunakan paku dan semacamnya untuk mengikat rumah, tetapi menggunakan tali dari rotan atau bambu. Terdapat semacam serambi kecil sebelum tangga turun. Tiap-tiap rumah berjarak tidak saling berjauhan, saling berhadapan utara dan selatan. Rumah di bagi menjadi dua, ruang keluarga yang cukup luas berbentuk L dan ruang kecil dipojokan yang berfungsi sebagai dapur dan tempat kayu bakar.

Perabotan yang paling modern adalah sebuah tabung kaca sebagai tempat minum pengganti bambu panjang. Tabung tersebut diperbolehkan di pergunakan setelah ada kesepakatan dari musyawarah desa. Alat masak masih menggunakan tungku dan kuali tanah liat dan sendok sayur dari batok kelapa. Alat makan berupa piring tanah dan gelas dari bambu. Di samping rumah terdapat bentangan bambu atau kayu yang berfungsi sebagai jemuran. Penerangan yang dipergunakan adalah semacam obor yang harus di matikan ketika menjelang tidur.

Semua penduduk Baduy menggunakan pakaian atasan berwarna putih, bawahan kain hitam lorek-lorek keabu-abuan dan menggunakan ikat kepala bagi yang laki laki. Itu adalah baju khas mereka yang akan di pakai ke manapun mereka berada. Mereka tidak diperkenankan memakai celana atau baju selain yang mereka biasa pergunakan.

Kami menginap semalam di kampung ini. Tim dibagi menjadi 3 dan tinggal di 3 rumah, satu rumah untuk tim wanita yang terdiri dari 7 orang dan sisanya yang laki laki menempati dua rumah lainnya. Setelah membersihkan diri dan mandi, kami beristirahat sambil menunggu makan malam dan berbincang bincang santai dengan penduduk sambil menunggu makan malam. Tempat mandi kami di bagi menjadi 2, di sebelah timur untuk laki laki dan di sebelah barat untuk perempuan bersama perempuan Baduy lainnya.

Beberapa sibuk belanja souvenir dari Baduy seperti gelang dari akar seharga 1000rp, gelang kain, kalung, gantungan kunci, baju Baduy (hitam/putih), golok, syal, tas, sarung hp dsb. Untuk berbelanja yang nilainya kecil sebaiknya menggunakan uang pas karena mereka sering kesulitan dalam mengembalikan. Beberapa yang lain sibuk menggunakan jasa tukang pijit yang ada disitu. Beberapa yang lain cukup duduk mengobrol sambil merokok dan minum teh panas atau kopi panas. Ar panas dan alat minum sudah disediakan tuan rumah (sampai tuan rumah tidur) sehingga cukup mambawa kopi atau minuman instan lainnya. Beberapa menikmati bintang bintang di langit yang jernih.

Gambar . 8 Jembatan menuju kampong Gajeboh,

Sesudah di rasa cukup mengantuk, akhir nya satu persatu kami tidur untuk mengembalikan tenaga setelah berjalan dari Ciboleger-Cibeo yang berjarak sekitar 15 km. Semakin malam udara semakin dingin. Memang sebaiknya membawa baju hangat , kaus kaki dan sarung tangan bagi yang tidak tahan dingin.

Setelah selesai , sarapan dan packing,berdoa dan berpamitan, pukul 8:30 kami meninggalkan Kampung Cibeo dan kembali ke Desa Ciboleger tetapi dengan rute berbeda dari keberangkatan. Kali ini kami akan singgah di desa Gajeboh, ,Baduy Luar, satu jam perjalanan sebelum Ciboleger.

Suasana perjalanan hampir sama dengan ketika berangkat, panas, angin, peluh, tanjakan, turunan, tanjakan, jembatan gantung. Mulai jembatan kedua dari kampung Cibeo yang sepertinya perbatasan Baduy Luar dan Dalam kami sudah boleh mengambil gambar. Di perjalanan selanjutnya sempat terjadi hujan sehingga jalanan menjadi licin.

Sekitar jam 11 siang, setelah melewati jembatan gantung ketiga yang melintasi sungai Ciujung tim pertama sampai di kampung Gajeboh,Baduy Luar. Kami berkumpul dan beristirahat makan siang di situ. Beberapa teman mandi di sungai Ciujung yang airnya cukup jernih dan segar. Di Kampung Gajeboh banyak terlihat perempuan sedang menenun kain dengan alat tenun tradisional. Setelah selesai makan siang dan beristirahat kami mulai melanjutkan perjalanan yang katanya tinggal 1 jam lagi. Setelah sempat kembali terengah engah melewati tanjakan tiga, kami mulai memasuki kembali Desa Ciboleger. Di sana telah menunggu Mas Ady, Mbak Tania dan Amanda.

Gambar . 9 Sungai Ciujung, desa Gajeboh

Sekitar jam 1 siang, setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada pemandu dan semua pihak yang telah membantu, serta ucapan selamat tinggal kepada sandal gunung Mas Wid yang hilang di Ciboleger, perlahan lahan kami mulai meninggalkan pintu gerbang Ciboleger untuk kembali ke Jakarta dengan membawa dan meninggalkan sepenggal kenangan. Sampai di Jakarta dengan selamat sekitar jam 19.45 WIB malam setelah sebelumnya mampir di warung bakso. Kemudian semua teman teman saling berpamitan dan saling mengucapkan sampai ketemu di petualangan Wanatama berikutnya, dan kemudian pulang ke tempat tinggal nya masing masing.


Menurut pengalaman, Urang Baduy yang pernah kita kunjungi, biasanya akan mengadakan kunjungan balik ke kita. Seperti kita yang baru pertama kali mengunjungi mereka, kita kagum dengan kesederhanaan hidup mereka, mereka yang baru akan pertama kali mengunjungi Jakarta pun akan kagum dengan ke-modern-an kehidupa Jakarta. Mengutip kata kata Ketua Tusra sekaligus penasehat Wanatama, Pak Kusseto, sebaiknya kita juga bisa menghormati dan menghargai prinsip hidup mereka serta ikut melestarikan budaya mereka, dan jangan meracuni mereka dengan kebudayaan modern kita apalagi mengenalkan kekuatan sekaligus kelemahan kita yaitu “Budaya Uang”. See you next adventure.

Salam Wanatama

Ari (Mining HO), Bongky (Mining HO), Conerisman (Mining HO), Joy (Mining HO), Sabeth (Mining HO), Sodiq (Mining HO), Toy (Mining HO), Widodo (Mining HO), Wisnu (Mining HO), Yenny (Mining HO), Sandy (MST), Wahyu (PTTU BHJ), Ady (PTTU Jkt), Amanda (PTTU Jkt), Benno (PTTU Jkt), Dony (PTTU Jkt), Santo (PTTU Jkt), Tania (PTTU Jkt), Tomo (PTTU Jkt), Windy (PTTU Jkt), Yanti (PTTU Jkt), Yesti (PTTU Jkt), Agus (TC Cileungsi), Eko (TC Cileungsi), Hendi (TC Cileungsi), Joko (TC Cileungsi), Yuli (TSD),Rachma (TSD),Boni (Jakarta), Nur (Jakarta)


About this entry